Dengan populasi Muslim lebih dari 237 juta jiwa menurut data BPS 2023, Indonesia memiliki basis investor syariah terbesar di Asia Tenggara. Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar memanfaatkan instrumen pasar modal berbasis prinsip Islam. Jakarta Islamic Index, atau JII, hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut: indeks resmi Bursa Efek Indonesia yang memuat 30 saham paling likuid yang telah lolos seleksi kehalalan secara ketat.
Per akhir Mei 2026, kapitalisasi pasar seluruh saham syariah di BEI menyentuh Rp5.840 triliun, setara sekitar 54,3% dari total kapitalisasi pasar nasional. Angka ini naik dari Rp4.920 triliun pada akhir 2023, mencerminkan pertumbuhan yang konsisten meski kondisi makroekonomi global bergejolak.
Apa Itu Jakarta Islamic Index dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Jakarta Islamic Index diluncurkan BEI bersama Danareksa Investment Management pada 3 Juli 2000. Indeks ini memuat tepat 30 efek syariah paling likuid dari Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan. DES diperbarui dua kali setahun, setiap Mei dan November, berdasarkan laporan keuangan emiten per akhir tahun dan akhir Juni.
Proses seleksi JII berjalan dalam dua lapis. Lapis pertama adalah seleksi kehalalan oleh OJK: emiten wajib memenuhi kriteria kualitatif dan kuantitatif yang diatur dalam POJK Nomor 35/POJK.04/2017 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah. Secara kualitatif, kegiatan usaha emiten tidak boleh berkaitan dengan alkohol, rokok, senjata, judi, hiburan tidak halal, riba, atau perdagangan yang dilarang syariat. Secara kuantitatif, rasio utang berbasis bunga terhadap total aset tidak boleh melebihi 45%, dan pendapatan non-halal tidak boleh melampaui 10% dari total pendapatan.
Lapis kedua adalah seleksi likuiditas oleh BEI. Dari seluruh saham yang masuk DES, BEI memilih 60 saham dengan kapitalisasi pasar rata-rata tertinggi, lalu menyaring 30 saham dengan nilai transaksi rata-rata harian tertinggi dalam 12 bulan terakhir. Hasilnya adalah JII yang mewakili saham syariah paling aktif diperdagangkan di pasar.
Selain JII-30, BEI juga menerbitkan JII 70 sejak 17 Mei 2018, yang memuat 70 saham syariah paling likuid. JII 70 memberikan eksposur lebih luas bagi investor yang menginginkan diversifikasi lebih dalam ekosistem syariah.
Apa Saja Kriteria Screening Halal yang Digunakan OJK?
Pertanyaan paling sering diajukan calon investor Muslim adalah: bagaimana memastikan sebuah saham benar-benar halal? OJK telah menetapkan dua jalur verifikasi yang saling melengkapi.
Kriteria negatif (negative screening) mencakup larangan berinvestasi pada emiten yang bergerak di bidang perjudian dan permainan berbasis taruhan, perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang, perdagangan dengan penawaran dan permintaan palsu, perbankan konvensional berbasis bunga, perusahaan asuransi konvensional, serta produsen, distributor, atau penyedia barang dan jasa yang diharamkan dalam Islam. Emiten yang memproduksi atau mendistribusikan minuman keras, babi, dan turunannya juga dikecualikan secara otomatis.
Kriteria finansial kuantitatif mencakup tiga rasio utama. Pertama, total utang berbasis bunga dibandingkan total aset tidak boleh melampaui 45%. Kedua, total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan tidak boleh melampaui 10%. Ketiga, OJK mempertimbangkan laporan keuangan audited untuk memastikan konsistensi kepatuhan lintas periode.
Proses ini sepenuhnya dilakukan oleh tim OJK tanpa biaya tambahan bagi emiten. Emiten yang masuk DES tidak perlu mengajukan permohonan khusus karena OJK melakukan evaluasi secara proaktif berdasarkan laporan keuangan publik. Sebaliknya, emiten yang keluar dari DES karena melanggar kriteria akan dikeluarkan dari JII pada periode evaluasi berikutnya.
Siapa Saja Emiten Unggulan dalam JII?
Berdasarkan komposisi JII per periode Desember 2025 hingga Mei 2026, sejumlah emiten dari sektor-sektor utama mendominasi indeks. Sektor barang konsumen non-siklus diwakili oleh emiten seperti Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) dan Kalbe Farma (KLBF). Sektor energi dan pertambangan menghadirkan nama-nama seperti Adaro Andalan Indonesia (AADI) dan Bukit Asam (PTBA). Sektor telekomunikasi diwakili Telkom Indonesia (TLKM) yang juga masuk LQ45 dan IDX30, sebagaimana dibahas dalam panduan LQ45 dan IDX30.
Sektor perbankan syariah turut terwakili melalui Bank Syariah Indonesia (BRIS), entitas hasil merger Bank BRIsyariah, Bank Mandiri Syariah, dan BNI Syariah yang dirampungkan pada Februari 2021. Per kuartal pertama 2026, total aset BRIS mencapai Rp394 triliun dengan pertumbuhan pembiayaan 18,7% secara tahunan, menempatkannya sebagai bank syariah terbesar di Asia Tenggara berdasarkan aset.
Perlu dicatat bahwa komposisi JII berubah setiap enam bulan. Investor wajib memantau pengumuman resmi BEI setiap Mei dan November untuk mengetahui saham mana yang masuk atau keluar dari indeks.
Bagaimana Kinerja JII Dibandingkan Indeks Konvensional?
Dalam jangka panjang, JII menunjukkan kinerja yang kompetitif terhadap IHSG. Selama periode 2020 hingga akhir 2025, JII mencatatkan total return sekitar 67,4%, sementara IHSG membukukan return sekitar 58,9% pada periode yang sama. Keunggulan ini sebagian besar didorong oleh bobot tinggi pada sektor komoditas yang mengalami supercycle harga selama 2021 hingga 2022.
Namun investor perlu memahami konsekuensi dari proses negative screening: JII secara struktural tidak memuat saham perbankan konvensional seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Mandiri (BMRI) yang merupakan emiten dengan kapitalisasi terbesar di IHSG. Absennya tiga raksasa perbankan ini berarti korelasi JII dengan IHSG tidak sempurna, sehingga JII bisa berperilaku berbeda dalam siklus pasar tertentu.
Volatilitas JII cenderung lebih tinggi dibandingkan LQ45 karena konsentrasi pada sektor komoditas dan konsumen. Investor dengan horizon jangka pendek perlu mempertimbangkan faktor ini sebelum mengalokasikan portofolio.
Cara Berinvestasi di Saham Syariah
Investor dapat mengakses saham JII melalui dua jalur utama. Jalur pertama adalah pembelian langsung saham melalui rekening efek di perusahaan sekuritas yang memiliki fitur rekening syariah atau Rekening Dana Nasabah (RDN) syariah. Beberapa sekuritas anggota BEI menawarkan pembukaan rekening syariah secara online dalam waktu kurang dari satu hari kerja dengan setoran awal mulai Rp100.000.
Jalur kedua adalah melalui Reksa Dana Syariah berbasis indeks yang mereplikasi kinerja JII atau JII 70. Opsi ini cocok untuk investor pemula yang belum familiar dengan mekanisme pemilihan saham individual. OJK mencatat per Desember 2025 terdapat 1.074 produk reksa dana syariah aktif dengan total dana kelolaan Rp88,7 triliun.
Untuk investor yang ingin membangun portofolio saham syariah secara mandiri, pendekatan berbasis indeks (index investing) menjadi titik masuk paling sederhana: beli semua atau sebagian besar saham dalam JII secara proporsional berdasarkan kapitalisasi pasar masing-masing, lalu rebalancing setiap enam bulan mengikuti perubahan komposisi indeks.
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) melalui Fatwa Nomor 80/DSN-MUI/III/2011 telah menetapkan bahwa mekanisme perdagangan saham di BEI telah sesuai dengan prinsip syariah, selama saham yang diperdagangkan masuk dalam DES. Fatwa ini menjadi landasan hukum syariah bagi jutaan investor Muslim Indonesia untuk berpartisipasi di pasar modal.
Catatan regulasi: Investasi saham syariah di Indonesia diatur oleh OJK melalui POJK Nomor 35/POJK.04/2017 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah, serta Peraturan BEI tentang metodologi indeks. Kehalalan emiten dalam DES dievaluasi berkala oleh OJK, bukan oleh media atau pihak ketiga lainnya. Reksa dana syariah wajib memiliki izin OJK dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah yang ditunjuk DSN-MUI. Pasar Rakyat adalah media editorial independen yang menyajikan informasi finansial untuk tujuan edukasi. Pasar Rakyat bukan merupakan penasihat investasi, manajer investasi, atau perusahaan efek, dan tidak memiliki izin jasa keuangan dari OJK, Bappebti, maupun BEI. Seluruh keputusan investasi adalah tanggung jawab pembaca sepenuhnya.