Obligasi Negara Ritel (ORI) dan Savings Bond Ritel (SBR) adalah dua instrumen investasi yang diterbitkan langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan. Keduanya dirancang khusus untuk investor individu, menawarkan imbal hasil tetap atau mengambang di atas suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), serta dijamin penuh oleh negara sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.

Pada kuartal pertama 2024, Pemerintah berhasil menghimpun dana dari penerbitan SBR013 senilai Rp16,17 triliun, melampaui target awal yang ditetapkan DJPPR sebesar Rp15 triliun. Angka ini mencerminkan minat investor ritel yang terus tumbuh terhadap instrumen berbasis APBN tersebut.

Artikel ini memandu Anda mulai dari syarat pendaftaran, memilih mitra distribusi, hingga mengeksekusi pembelian secara daring dalam waktu kurang dari 15 menit.

Apa Perbedaan ORI dan SBR sebelum Membeli?

Sebelum masuk ke prosedur pembelian, memahami perbedaan mendasar antara ORI dan SBR sangat penting agar pilihan instrumen sesuai dengan profil likuiditas Anda.

ORI (Obligasi Negara Ritel) memiliki kupon tetap (fixed rate). Artinya, besaran bunga yang Anda terima tidak berubah sepanjang tenor, biasanya 3 tahun. ORI juga dapat diperdagangkan di pasar sekunder melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga investor bisa menjual sebelum jatuh tempo jika membutuhkan dana cepat. Harga jual di pasar sekunder bisa di atas (premium) atau di bawah (diskon) nilai nominal tergantung pergerakan suku bunga.

SBR (Savings Bond Ritel) memiliki kupon mengambang (floating with floor). Kupon SBR mengikuti BI Rate ditambah spread tertentu, namun terdapat batas kupon minimum sehingga imbal hasil tidak akan jatuh di bawah angka yang dijanjikan saat penerbitan. SBR bertenor 2 tahun dan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, tetapi memiliki fasilitas early redemption, yakni investor dapat mencairkan sebagian pokok (maksimum 50%) pada periode tertentu yang ditetapkan Kemenkeu.

Sebagai ilustrasi, SBR013 yang diterbitkan pada Februari 2024 menawarkan kupon awal 6,45% per tahun dengan spread 150 basis poin di atas BI Rate. Sementara ORI025 yang diterbitkan Agustus 2023 mematok kupon tetap 6,10% per tahun selama 3 tahun.

Bagaimana Cara Membeli ORI dan SBR Secara Online Langkah demi Langkah?

Pemerintah telah menunjuk puluhan mitra distribusi resmi yang terdiri dari bank umum, perusahaan sekuritas, dan platform fintech. Seluruh transaksi dilakukan secara daring melalui aplikasi atau situs web mitra distribusi tanpa perlu datang ke kantor cabang.

Langkah 1: Siapkan Dokumen dan Rekening

Syarat utama pembelian ORI maupun SBR adalah:

  1. Warga Negara Indonesia (WNI) berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah
  2. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
  3. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) — diwajibkan untuk pelaporan pajak kupon sebesar 10% final sesuai PP Nomor 16 Tahun 2009
  4. Rekening tabungan di bank yang terdaftar sebagai mitra distributor
  5. Rekening dana nasabah atau sub-rekening efek (khusus untuk pembelian melalui platform sekuritas)

Jika belum memiliki NPWP, Anda dapat mengurus secara daring melalui ereg.pajak.go.id atau menggunakan NIK sebagai pengganti NPWP sesuai kebijakan terbaru Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Langkah 2: Pilih Mitra Distribusi Resmi

Per 2024, DJPPR telah menunjuk lebih dari 30 mitra distribusi, antara lain:

  • Bank: BRI, BCA, Mandiri, BNI, CIMB Niaga, Bank Permata, Bank Syariah Indonesia (BSI)
  • Sekuritas: Trimegah Sekuritas, Mandiri Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas
  • Fintech: Bareksa, Bibit, Tanamduit, Modalku, GoInvestasi (GoPay)

Pilih mitra yang aplikasinya sudah Anda gunakan sehari-hari untuk mempermudah proses verifikasi dan transfer dana. Setiap mitra distribusi terintegrasi langsung dengan sistem eSBN (Surat Berharga Negara) milik Kemenkeu, sehingga keamanan dan validitas transaksi terjamin.

Langkah 3: Registrasi dan Verifikasi Identitas (KYC)

Buka aplikasi mitra distribusi pilihan Anda, kemudian:

  1. Buat akun atau masuk jika sudah terdaftar
  2. Pilih menu "Investasi" atau "SBN Ritel"
  3. Lengkapi formulir data diri: nama sesuai KTP, NIK, NPWP, alamat, nomor telepon
  4. Unggah foto KTP dan swafoto (selfie) sesuai instruksi aplikasi
  5. Tunggu proses verifikasi KYC yang umumnya berlangsung 1 hingga 3 hari kerja

Bagi nasabah bank yang sudah melakukan KYC sebelumnya, proses ini biasanya selesai lebih cepat karena data sudah tervalidasi oleh pihak bank.

Langkah 4: Buka Masa Penawaran

ORI dan SBR diterbitkan dalam periode penawaran yang terbatas, biasanya 2 hingga 3 minggu. Jadwal penerbitan diumumkan melalui situs resmi Kemenkeu (kemenkeu.go.id) dan aplikasi mitra distribusi. Anda hanya dapat melakukan pemesanan selama masa penawaran berlangsung.

Catat tanggal pembukaan dan penutupan masa penawaran. Pemesanan yang masuk setelah masa penawaran ditutup tidak akan diproses, tanpa pengecualian.

Langkah 5: Lakukan Pemesanan dan Transfer Dana

Setelah masa penawaran dibuka:

  1. Masuk ke menu SBN Ritel di aplikasi mitra distribusi
  2. Pilih seri yang tersedia (misalnya ORI026 atau SBR014)
  3. Masukkan nominal pemesanan. Minimum investasi adalah Rp1.000.000 (satu juta rupiah) dengan kelipatan Rp1.000.000. Batas maksimum per individu adalah Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah) untuk ORI dan Rp2.000.000.000 (dua miliar rupiah) untuk SBR
  4. Tinjau ringkasan pemesanan: seri, nominal, tenor, kupon, tanggal jatuh tempo
  5. Konfirmasi pemesanan dan transfer dana ke rekening penampungan yang tertera dalam aplikasi

Dana yang sudah ditransfer akan dikunci dan tidak dapat ditarik kembali sampai masa penawaran ditutup. Jika terdapat kelebihan pemesanan (oversubscribed), sebagian dana akan dikembalikan ke rekening Anda setelah tanggal penjatahan.

Langkah 6: Terima Konfirmasi dan Bukti Kepemilikan

Setelah masa penawaran ditutup dan penjatahan dilakukan, Anda akan menerima:

  • Notifikasi konfirmasi pembelian dari aplikasi mitra distribusi
  • Bukti kepemilikan berupa Konfirmasi Penjatahan Surat Berharga dari KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia)
  • Pemberitahuan tanggal pembayaran kupon pertama

Kupon dibayarkan setiap bulan ke rekening tabungan yang Anda daftarkan. Untuk SBR013 dengan nominal investasi Rp50.000.000 dan kupon 6,45%, misalnya, kupon bulanan bruto yang diterima adalah sekitar Rp268.750 sebelum pajak 10%.

Tips Memaksimalkan Investasi ORI dan SBR

Pahami beberapa hal penting sebelum memutuskan nominal investasi:

Diversifikasi tenor. Jika memiliki dana lebih, pertimbangkan membeli keduanya: ORI untuk kupon tetap yang bisa diperdagangkan, SBR untuk kupon mengambang yang lebih tinggi saat BI Rate naik.

Manfaatkan early redemption SBR dengan cermat. Fasilitas pencairan awal SBR biasanya dibuka pada bulan ke-12. Gunakan hanya jika benar-benar diperlukan karena pokok yang dicairkan tidak lagi menghasilkan kupon.

Pantau jadwal penerbitan. Kemenkeu biasanya menerbitkan 6 hingga 8 seri SBN Ritel per tahun, bergantian antara ORI, SBR, Sukuk Ritel (SR), dan Sukuk Tabungan (ST). Merencanakan pembelian jauh hari memungkinkan Anda menyiapkan dana tepat waktu.

Simpan bukti kepemilikan. Meski data tersimpan secara digital di KSEI, simpan juga salinan konfirmasi penjatahan sebagai arsip pribadi.

Untuk memahami konteks lebih luas tentang obligasi negara dan perbandingannya dengan deposito serta reksa dana, Anda dapat membaca panduan utama kami tentang obligasi ORI dan SBR di klaster emas-deposito-investasi.


Catatan regulasi: Pembelian ORI dan SBR hanya dapat dilakukan melalui mitra distribusi yang telah mendapatkan penunjukan resmi dari DJPPR Kemenkeu. Seluruh produk SBN Ritel tunduk pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan pengawasan OJK sesuai Peraturan OJK Nomor 36/POJK.04/2014. Kupon dikenakan pajak penghasilan final sebesar 10% berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2009. Pasar Rakyat adalah media editorial independen yang menyajikan informasi keuangan untuk tujuan edukasi. Kami bukan lembaga jasa keuangan dan tidak memiliki izin usaha dari OJK, Bappebti, maupun BEI. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.